Peluang usaha untuk pelajar

Saat ini tidak hanya karyawan atau ibu rumah tangga saja yang mencoba membuka usaha untuk mendapat penghasilan. Kini banyak pelajar yang juga tertarik untuk memulai berbisnis. Namun banyak yang tidak tahu peluang usaha untuk pelajar apa saja yang bisa mereka jalankan tanpa mengganggu aktivitas belajar mereka. Mempunyai usaha sendiri memang menggiurkan apalagi jika melihat penghasilan yang bisa didapat. 

Banyak peluang usaha untuk pelajar yang bisa dijalankan. Namun yang perlu diingat adalah jangan sampai saat menjalankan suatu usaha justru melupakan waktu  belajar. Hal ini karena bagaimanapun tugas seorang pelajar adalah adalah belajar dan belum waktunya untuk bekerja. Jalankan usaha yang Anda sukai dan tidak banyak mengganggu waktu belajar.

Peluang usaha berjualan pulsa
Salah satu contoh usaha yang bisa dijalankan kaum pelajar adalah dengan berjualan di sekolah. Jika Anda tidak malu maka bisa menjual barang yang dibutuhkan oleh teman-teman di sekolah. Berjualan disekolah bisa sangat menguntungkan khususnya berjualan makanan. Untuk melakukan usaha yang satu ini dibutuhkan mental yang kuat dan berani. Kelebihan dari usaha yang satu ini adalah cepat mendapat untung.

Selain menjual makanan, kaum pelajar juga bisa menjual berbagai hal seperti pulsa, keperluan pelajar, atau menjual barang-barang sesuai hoby. Pulsa sudah seperti kebutuhan penting karena hampir semua orang saat ini memiliki handphone dan itu bisa Anda manfaatkan. Selain itu Anda juga bisa menjual barang-barang berdasarkan hobi atau kegemaran. Sebagai pelajar, Anda bisa menjual aksesoris, kaos, baju, tas bahkan sepatu. 

Saat ini sudah banyak pelajar yang mempunyai usaha di bidang fashion. Peluang usaha untuk pelajar yang lain adalah blogging. Blogging tidak akan menyita banyak waktu pelajar karena hanya menulis artikel serta mendesain blognya supaya bagus dan mendapat SEO yang tinggi. Usaha ini cuma memerlukan sambungan ke internet.  

Apabila blog Anda bagus maka akan banyak pengiklan yang memasang iklannya sehingga Anda bisa mendapat penghasilan. 
Keuntungan dari usaha yang satu ini adalah tidak terlalu menyita banyak waktu para pelajaran. Sementara kekurangan dari peluang usaha yang satu ini adalah memerlukan kesabaran, ketelatenan serta waktu yang lama.

Usaha Kecil Dendeng Daun Singkong

daun singkong
Dendeng menjadi ikon kuliner bangsa Indonesia. Dendeng pernah dinobatkan sebagai salah satu makanan terfavorit para wisatawan dunia. Pada umumnya, bahan utama pembuatan dendeng adalah irisan daging sapi yang diawetkan dengan cara dikeringkan atau dijemur di bawah terik matahari. Agar hasilnya tambah lezat, dendeng dibumbui dengan asam, garam, dan bumbu rempah-rempah. Untuk menyantap lezatnya menu sajian dendeng, maka harus ditebus dengan harga yang cukup mahal, apa lagi ketika harga daging sedang tinggi. Oleh karena itu, beberapa orang yang kreatif mencoba memanfaatkan kepopuleran masakan dendeng dengan menciptakan menu olahan dendeng dari bahan lain, salah satunya adalah daun singkong.

Dendeng daun singkong merupakan masakan inovatif yang memanfaatkan daun singkong sebagai pengganti daging. Sajian kreatif tersebut dapat menjadi jembatan bagi orang-orang yang ingin menikmati rasa dendeng, namun terkendala oleh larangan mengkonsumsi daging karena kolesterol atau karena harga yang tidak terjangkau. Oleh karena itu, membuat dendeng berbahan daun ubi singkong bisa menjadi salah satu alternatif usaha skala rumah tangga atau pun menu pelengkap pada usaha rumah makan. Bagaimanakah cara membuat dendeng daun singkong? Inilah resep sederhananya!

dendeng daun singkong

Cara Membuat Dendeng Daun Singkong
Alat-alat yang dibutuhkan yaitu kompor, panci, pisau, pengukus, ulekan, penumbuk, dan lain-lain.
Bahan-bahan yang dibutuhkan terdiri dari: 
  • Daun singkong muda 500gr
  • Telur ayam 3 butir
  • Tepung tapioka 100gr
  • Tepung kanji 5 sendok makan
  • Bumbu-bumbu yang terdiri atas: cabe 5-10 biji, daun jeruk 5 lembar, ketumbar 1 sdt, kencur 1 ruas, bawang merah 5 siung, gula pasir 4 sdm, bawang putih 7 siung, garam 1 sdm, dan penyedap rasa sapi secukupnya.

Proses pembuatan: 
Pertama daun singkong direbus di dalam panci agar menjadi empuk. Kemudian daun singkong tersebut ditiriskan lalu diiris tipis-tipis. Tumbuk atau giling (blender) semua bumbu. Daun singkong yang telah diiris kemudian dicampur bersama telor, tepung-tepung, bumbu, dan sedikit air. Aduk hingga adonan tercampur satu dan merata. Langkah berikutnya adalah memasukkan adonan ke dalam kantong plastik yang kemudian dikukus selama 30-40 menit. Setelah proses pengukusan, angkat dan dinginkan adonan, kemudian selanjutnya diiris tipis-tipis menyerupai daging dendeng. Langkah terakhir adalah proses pengeringan, yaitu dengan cara dijemur sekitar 3-4 hari. Dendeng pun siap untuk digoreng dan dikemas dalam plastik kedap udara.

Strategi Pemasaran
Untuk memasarkan produk dendeng daun singkong ini biasanya dilakukan dengan cara menjualnya ke warung, toko, rumah makan, atau lewat media online dengan dukungan promosi di Facebook dan Twitter.

Mengintip Usaha Jepang Mengatasi Masalah Pertanian

Mengintip Usaha Jepang Mengatasi Masalah Pertanian
Jepang, seperti kebanyakan negara-negara lain di dunia, sedang mengalami masalah yang cukup rumit dalam sektor pertanian. Selain masalah ketersediaan lahan, permasalahan utama yang muncul di Jepang adalah semakin berkurangnya orang yang berminat untuk terjun dalam bidang pertanian sedangkan rata-rata orang yang bekerja sebagai petani kini sudah semakin menua. Imbasnya produk pertanian mereka tidak mampu menutupi kebutuhan dalam negerinya sendiri. Jepang hanya mampu memproduksi sekitar 40% dari kebutuhan produk pertanian negaranya. Untuk mengatasi permasalahan ini berbagai pihak di Jepang berusaha menempuh berbagai cara, terutama melalui bidang keahlian mereka yaitu teknologi.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kaum muda sekarang sangat jarang ada yang tertarik untuk menggeluti dunia pertanian. Di Jepang sendiri saat ini jumlah orang yang bekerja dalam bidang pertanian bisa dikatakan sangat minim. Satu keluarga petani di Jepang, umumnya beranggotakan 4 orang anggota keluarga, biasanya harus mengurus puluhan hektar lahan, bahkan di beberapa daerah mereka harus mengurusi lebih dari 100 hektar lahan. Dengan usia para petani di Jepang yang umumnya tak lagi muda, hal ini tentu saja menjadi sebuah masalah yang serius.

Berbagai pihak, terutama dari kaum akademis dan produsen peralatan pertanian, sangat menyadari akan permasalahan besar yang tengah melanda Jepang ini. Mereka kemudian bahu-membahu mencari solusi untuk mengatasinya. Salah satunya adalah kerjasama antara Yanmar dan Universitas Hokkaido untuk menghasilkan mesin pertanian yang mampu bekerja tanpa digerakan oleh manusia. Produk purwarupanya sendiri telah diuji cobakan di sebuah lahan di Sapporo dan Tsukaba pada sekitar akhir 2012 lalu.

Mesin yang saat itu diuji cobakan antara lain mesin pembajak tanah dan pemanen padi. Kedua mesin itu bekerja secara otomatis bedasarkan data yang telah diinput dan menggunakan teknologi GPS sebagai pemandunya dengan margin kesalahan dibawah 10 cm. Prof. Noboru Noguchi dari Universitas Hokkaido berharap produk ini nantinya akan mampu membantu petani untuk melakukan pekerjaan bertani tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Uji coba ini sendiri selain untuk menilai sejauh mana efektivitas mesin ini, juga ditujukan untuk menjawab keraguan publik akan keamanan teknologi ini.

Teknologi ini awalnya dianggap berbahaya karena ada kemungkinan mesin ini akan menabrak orang atau benda lain yang berada di jalurnya saat mesin tersebut bekerja. Namun lewat sebuah demonstrasi, tim pengembang berhasil menghilangkan keraguan itu dan menunjukan betapa amannya mesin ini berkat teknologi sensor yang mereka pasang. dengan dua macam sensor yang mereka gunakan, mesin-mesin ini akan berhenti secara otomatis dan membunyikan klakson sebagai peringatan jika mendeteksi adanya penghalang pada jarak hingga 30 meter. Pihak pengembang sendiri menyatakan walau telah cukup puas dengan kinerja mesin ini namun masih berencana untuk membuat tampilan mesin menjadi lebih ringkas sebelum dipasarkan.

Menariknya ternyata bukan hanya pihak luar saja yang bekerja keras untuk membantu kinerja para petani. Para petani di Jepang sendiri secara sadar mulai mengembangkan diri untuk meningkatkan kualitas pekerjaannya, Penggunaan GPS sekarang mulai marak dikalangan petani di Jepang untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pekerjaan mereka. Selain itu mereka sering mengadakan diskusi-diskusi untuk mengembangkan peralatan pertanian mereka agar menjadi lebih praktis.

Berkat kesadaran berbagai pihak di Jepang, pertanian di Jepang kini secara perlahan mulai mengarah kejalur yang lebih baik. Berbagai teknologi yang menjadi keunggulan mereka diberdayakan secara optimal untuk menunjang kemajuan pertanian. Seorang teman saya yang asli Jepang bahkan berujar, "Tak lama lagi lahan pertanian di Jepang tak akan berhenti menghasilkan produk terbaiknya, bahkan ketika si petani sedang tertidur lelap".